26 Juli 2022

Media Online dan Kegemaran Menelikung Pembaca

Daftar Isi [Tutup]


    Beberapa hari lalu, seorang komika dan selebritas Instagram bernama Bintang Emon, membuat sebuah video komedi menanggapi isi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang belakangan lumayan banyak diperbincangkan kembali. Video yang diposting di akun Instagramnya itu didasarkan atas sebuah judul berita dari IDN Times yang bunyinya, "RKUHP: Hina Pemerintah Dipenjara 4 Tahun, Sebar Penghinaan 5 Tahun". Salah satu isi dari videonya adalah adegan seorang pejabat yang tersinggung gara-gara dilihat terus-menerus oleh seseorang yang digambarkannya sebagai rakyat kecil. Karena merasa tersinggung, lalu si pejabat meminta pihak keamanan untuk menangkapnya.

    Video tersebut mendapat banyak tanggapan dari pengikutnya. Rata-rata mereka kagum dengan keberanian Bintang mengkritik produk hukum tersebut yang rencananya akan disahkan DPR dalam waktu dekat ini.

    Antara isi video dan judul berita saya rasa tidak ada persoalan. Sebagai sebuah konten komedi, hiperbola adalah hal yang lumrah. Namun, masalah akan muncul tatkala kita cek secara utuh isi beritanya. Di dalamnya ternyata memuat lengkap isi pasal RKUHP yang dipermasalahkan Bintang tersebut. Di situ ditulis pasal 240 berbunyi, “Setiap orang yang di muka umum melakukan penghinaan terhadap pemerintah yang sah yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV." 

    Lalu, pasal 241 berbunyi, “Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, atau menyebarluaskan dengan sarana teknologi informasi yang berisi penghinaan terhadap pemerintah yang sah dengan maksud agar isi penghinaan diketahui umum yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V.”

    Nah, setelah kita cermati isi dari dua pasal tersebut, jelas ada kata kunci yang luput dibaca oleh Bintang Emon, yaitu "yang berakibat terjadinya kerusuhan". Penghinaan sebagaimana yang ditampilkannya dalam video jelas tidak masuk dalam kategori pasal tersebut karena tidak ada efek kerusuhan. Karena itu, kritikannya menjadi kurang relevan.

    Saya tidak sedang mendukung atau menolak RKUHP. Tulisan ini hanya ingin mengulas tentang bagaimana media online seringkali mengaburkan atau menyembunyikan fakta krusial di dalam sebuah berita. Tujuannya tidak lain adalah clickbait, sebuah strategi memantik rasa penasaran seseorang, sehingga mereka akan tertarik untuk mengklik berita tersebut. 

    Masalahnya, pembaca Indonesia seringkali malas untuk membaca secara utuh sebuah berita. Mereka merasa cukup hanya dengan membaca judulnya saja. Itu pula yang mungkin dilakukan Bintang Emon dalam konteks video tersebut, sehingga poin penting dari isi beritanya menjadi tidak terbaca.

    Persoalan seperti ini sebenarnya bukan barang baru. Dari dulu sudah banyak kasus yang viral justru poin pentingnya malah tenggelam. Media yang seharusnya menjernihkan persoalan malah makin membuat bingung pembacanya dengan judul-judul yang heboh, bombastis, dan parsial. Kerja media yang demikian ditambah lagi dengan blow-up dari selebritas media sosial sehingga terjadilah kehebohan di antara para pengikutnya. Di jagat Twitter atau Facebook, kita juga sering menemukan orang yang membagikan tangkapan layar judul sebuah berita parsial. Postingan itu lalu dibagikan oleh pengikutnya. Dibagikan lagi oleh orang lain. Akhirnya postingan itu menyebar ke mana-mana dengan substansi yang hilang.

    Masih ingat kasus Rachel Vennya? Jika kita ditanya tentang dia, mungkin sebagian besar akan menjawab bahwa dia adalah artis yang kabur karantina tapi tidak dibui karena bersikap sopan. Betul. Itulah judul-judul berita media online sekelas CNN Indonesia. Padahal, jika dibaca lebih detail beritanya, akan ditemui poin yang lebih penting dari sekadar masalah kesopanan, yaitu bahwa dia negatif saat dites Covid-19, sehingga dianggap tidak akan menularkannya ke orang lain. Itulah yang menjadi pertimbangan hakim untuk tidak mengurungnya, hanya cukup menjadi tahanan rumah.

    Sekali lagi, saya tidak dalam posisi membela Rachel Vennya. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa membaca media online saat ini harus secara utuh agar kita tidak tersesat. Jangan hanya membaca judulnya, lalu membuat opini-opini liar yang malah jauh dari konteks berita. Tantangan terbesar pembaca media di era banjir informasi seperti sekarang adalah bagaimana memahami berita secara menyeluruh agar tidak dikibuli oleh selebgram dan buzzer.


    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar