20 Februari 2022

Ketika Anak Saya Joget "Saya Masih Tingting..."

Daftar Isi [Tutup]

    Saya sedang duduk-duduk di kursi ruang tamu ketika anak saya yang pertama dan temannya tiba-tiba berdiri di muka kaca jendela. Keduanya berbaris rapi sambil mengaca di kaca tersebut, lalu beberapa detik kemudian mulai barjoget sambil menyanyi, "Saya masih tingting...."

    Saya kaget. Aneh sekali rasanya anak seumuran dia menyanyi dan berjoget seperti itu. Kok dia bisa tahu lagu itu plus goyangannya? Soalnya, saya merasa tidak pernah memberinya tontonan semacam itu.

    Tidak berhenti di situ, di waktu yang lain, dia juga menyanyikan potongan lagu Bulan Sutena yang berjudul "I Love Mama Mantu". Hampir seharian lagu itu diulang-ulangnya. Ia baru berhenti ketika saya menegurnya karena bosan. Tapi, keesokan harinya, lagu itu meluncur lagi dari mulutnya.

    Suatu ketika, saya juga menyaksikan teman anak saya bergoyang pargoy. Sambil diiringi musik dari ponsel milik bapaknya, dia bergoyang lentik. Hafal betul liukannya. Saya yang menyaksikannya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Hebat betul.

    Dalam sebuah kesempatan, iseng-iseng saya bertanya kepada anak saya, dari mana dia mendapatkan semua referensi lagu dan goyangan itu? Dia bilang menonton TikTok dan YouTube di ponsel temannya.

    Benar saja, saya memang tidak pernah memberinya tontonan semacam itu. Sebisa mungkin saya selalu memfilter setiap tontonan yang saya berikan kepada anak-anak saya. Saya tidak pernah menyodorkan TikTok ataupun YouTube reguler. Satu-satunya yang sering saya bagikan hanyalah YouTube Kids, tontonan yang memang diprioritaskan untuk anak-anak. Kontennya sudah disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak-anak.

    Dulu, ketika anak pertama saya masih kecil, saya sudah pernah bertekad untuk menjauhkan anak-anak dari dunia gadget (tulisannya sudah pernah muncul di sini). Tapi, sayangnya susah sekali, terlebih ketika saya mengalami sakit yang panjang sampai saat ini. Ketika seharusnya saya bisa bermain bersama anak, waktu tersebut malah digunakannya untuk menonton video di ponsel. Mau bagaimana lagi, saya tidak bisa terlalu lama menemaninya. Saya harus kembali ke kamar untuk tiduran. Agar anak tidak rewel, ponsel adalah benda ajaib yang bisa menghentikan tangisnya.

    Membatasi anak dengan dunia gadget makin susah ketika anak sudah semakin besar. Saat ia sudah punya banyak teman, dia akan sering bermain bersama teman-temannya yang orang tuanya tidak pernah membatasi anaknya bermain ponsel. Dia bisa lebih betah bermain di rumah temannya ketimbang di rumah sendiri hanya untuk bisa dengan leluasa menikmati tontonan di ponsel.

    ****

    Makin hari mungkin kita akan kian susah lepas dari ponsel atau teknologi secara umum. Anak-anak juga akan begitu. Lalu, apa yang harusnya dilakukan oleh orang tua?

    Pertama, orang tua harus mengerti teknologi. Tidak perlu terlalu dalam, minimal tahu mana aplikasi yang cocok untuk anak dan mana yang tidak.

    Kita tahu, dunia maya adalah rimba raya. Di dalamnya bersemayam rupa-rupa hal, dari emas hingga binatang buas, dari sapaan manis hingga sumpah serapah. Semuanya bisa saling berdekatan, bahkan terkadang jadi satu kesatuan.

    Jika Anda tidak benar-benar tahu medan, lalu memasukkan anak Anda ke dalam rimba itu, jangan kaget kalau anak Anda tiba-tiba mudah mengumpat "Anjing!". Sebab, di komunitas tertentu di rimba tersebut, umpatan itu adalah hal yang biasa.

    Sebenarnya cukup mudah untuk tahu mana aplikasi yang cocok untuk anak. Di Google sudah banyak artikel yang menjelaskannya. Sayangnya, seringkali orang tua merasa tidak penting mengetahui hal-hal semacam itu.

    Kedua, harus ada batasan anak dalam menggunakan ponsel. Terus-terusan berada di hadapan ponsel memiliki dampak yang buruk terhadap perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Sudah banyak artikel yang menjelaskannya. Saya tidak perlu mengulangnya lagi di sini.

    Sudah, begitu saja.

    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar