27 Februari 2022

Binary Option dan Kisah Kelam MMM di Kampung Saya

Daftar Isi [Tutup]

    Heboh-heboh aplikasi opsi biner (binary option) belakangan mengingatkan saya akan kejadian pada tahun 2014 silam. Itu adalah masa gelap dunia "investasi" di kampung saya, di mana kegembiraan berubah drastis menjadi kesedihan mendalam. Kaya tiba-tiba, miskin tiba-tiba.

    MMM, itulah biang keroknya. Nama panjangnya adalah Mavrodi Mondial Moneybox, tapi di Indonesia lebih dikenal sebagai Manusia Membantu Manusia. Penamaan itu tampak seperti glorifikasi, membuat situs ini terkesan seperti filantropi. Memang yang digembar-gemborkan situs ini adalah berkonsep saling membantu, tapi orang yang menyerahkan uangnya tentu berpikir untuk mendapatkan untung, bukan untuk membantu.

    Di tahun tersebut, situs ini sangat populer di kampung saya. Banyak anak muda dan orang tua berlomba-lomba untuk ikut "membantu" di sana karena iming-imingnya sungguh menggiurkan. Setiap akun dijanjikan mendapatkan bantuan 30 persen dari modal yang disetorkan. Coba bayangkan, 30 persen per bulan. Itu sungguh sangat besar, terutama bagi mereka yang menyetor duit dengan jumlah yang besar pula. Menyetor Rp 1 juta saja, penghasilannya bisa Rp 300.000,-. Itu angka yang besar bagi orang-orang di kampung saya. Karenanya, mereka rela menjual barang-barang berharga mereka untuk ikut "membantu" orang lewat situs ini. Ada yang menjual ternak, ada yang menjual hasil tani, ada yang menjual kendaraan, dan sebagainya. Ada juga yang nekat pinjam ke sanak saudara.

    Keberanian mereka terjun ke MMM tentu saja bukan hanya karena iming-iming 30 persen itu. Jelas mereka tidak akan gampang percaya. Yang menguatkan kepercayaan mereka adalah bukti nyata di depan mata mereka, orang-orang yang sudah mendaftar lebih dulu bisa membeli motor, bahkan mobil. Mereka kaya mendadak. Itulah yang membuat orang-orang dengan cepat percaya bahwa MMM memang benar-benar menghasilkan.

    Tapi, di tahun itu, tidak banyak orang di kampung saya yang bisa mengakses internet dengan baik. Apalagi memahami sistem kerja MMM. Karena itu, muncullah semacam koordinator yang bertugas untuk membantu orang-orang yang gagap internet tersebut. Dia akan membuatkan akun dan memproses segala tetek-bengek transaksinya. Akun itu juga dia yang memegangnya. Yang punya akun hanya tinggal menerima penghasilan tiap bulan. Tentu saja si koordinator mendapatkan komisi dari pekerjaannya itu. 

    Sosok koordinator ini pula yang kian meyakinkan orang-orang bahwa transaksi ini tidak menyalahi agama, karena beberapa di antara mereka adalah kiai kampung. Ketika orang-orang awam itu ditanya, apakah MMM halal atau tidak, jawaban mereka simpel saja, "Kiai Anu jadi koordinator kok? Masak dia mau mengajurkan transaksi haram?"

    Sejujurnya, saya sendiri sudah tergiur dengan MMM karena teman-teman saya selalu membujuk untuk ikut. Mereka hampir tiap hari bercerita tentang profit yang diterimanya. Saya pikir, saya bisa bertransaksi dengan jumlah kecil, misalnya Rp 100.000,-. Kalaupun duit itu hilang, saya tidak akan begitu menyesalinya. 

    Tapi, otak saya tidak gampang menerima. Karena punya pengalaman berinternet, saya tidak mau percaya begitu saja terhadap hal-hal baru yang datang dengan iming-iming tinggi. Karenanya, saya memperbanyak membaca artikel di internet tentang MMM ini dari berbagai sumber. Artikel-artikel itu ada yang menganggap MMM sebagai scam dan tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai komunitas saling membantu, yang artinya itu positif.

    Setelah membaca banyak artikel, saya lalu berkesimpulan bahwa MMM tidak boleh diperlakukan sebagai investasi. Sebab, di dalamnya tidak ada aset. Ia skema Ponzi, di mana uang sebenarnya hanyalah perputaran dari akun ke akun. Komisi 30 persen itu diambil dari akun yang baru mendaftar. Jika alurnya seperti itu, maka korban terparah pastilah pendaftar terakhir. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan modalnya akan lenyap begitu saja.

    Benar saja, setelah beberapa bulan berselang, situs ini mulai bermasalah. Pertama-tama, orang mulai kesulitan untuk menarik komisinya. Lalu, bulan berikutnya komisi itu tidak masuk. Dan puncaknya, modalnya juga tidak bisa ditarik.

    Orang-orang mulai cemas. Koordinatornya mencari alasan untuk menenangkannya. Mereka bilang, ini hanya sementara karena ada masalah teknis. Nanti akan kembali seperti semula. Ada juga yang bilang bahwa itu kan sifatnya sukarela, bantu-membantu. Kalau uangnya hilang, ya, tidak perlu dipermasalahkan.

    Berhari-hari tidak kunjung ada kejelasan, orang-orang mulai sadar bahwa ini adalah penipuan. Masalahnya, mereka tidak tahu siapa yang menipu mereka karena situs ini dikendalikan oleh orang luar negeri, yaitu dari Rusia. 

    Sasaran kebingungan itu tentu saja adalah sang koordinator. Banyak dari mereka yang mencak-mencak menuntut koordinator untuk mengganti rugi. Tapi, mereka juga kebingungan ketika disodorkan konsep saling membantu itu. Jelas mereka susah mencari jawabannya. 

    Saya tidak tahu apakah akhirnya mereka mendapatkan ganti rugi. Yang saya tahu hanyalah muka kusut orang-orang yang kena tipu. Nominal kerugian mereka bermacam-macam, yang paling besar berkisar ratusan juta. Uang itu raib entah ke mana.

    Ramai-ramai aplikasi opsi biner belakangan ada sisi miripnya dengan apa yang terjadi di kampung saya dulu. Muara masalahnya sama, yaitu menawarkan profit yang tinggi dengan usaha gampang. Tinggal klik sana sini, duit langsung masuk ke rekening.

    Penipuan demi penipuan akan selalu ada di tiap zaman. Makin hari akan kian canggih. Tapi, kecanggihan itu tidak akan berarti kalau otak kita tidak gampang terpukau dengan hal-hal mewah yang didapat dengan cara kilat. Mencari informasi adalah laku penting sebelum kita masuk ke dalam sebuah sistem bisnis.

    Lenteng Barat, 27 Februari 2022

    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar