10 Januari 2022

Ke Sumar dan Pijat Plus-Plusnya

Daftar Isi [Tutup]
    ilustrasi pijat


    Malam itu saya berharap menjadi malam yang baik-baik saja. Datang, dipijat, lalu pulang. Tapi, itu harapan yang tampak muskil. Berharap rumah Ke Sumar sepi dari orang yang mau berpijat nyaris mustahil. Pasiennya dari berbagai penjuru, datang silih berganti. Masalahnya, dia hanya memijat pada sore hingga malam hari. Dari pagi sampai siang ia mengolah ladang. Habis salat Zuhur istirahat. Baru menemui tamu setelah selesai salat Ashar.

    Tentu malam itu tidak baik-baik saja. Saat saya sampai di rumahnya, sudah ada dua orang yang menunggu. Untungnya satu orang adalah anak kecil, yang berarti durasi pijatnya lebih pendek dari pada orang dewasa. Itu sedikit alasan untuk menegakkan niat yang mulai goyah. Padahal bisa saja ada lagi anak kecil yang datang dan sudah pasti dipijat duluan. Dalam hal pijat-memijat, itu hal yang lumrah.

    Kebosanan menunggu mulai tergambar di pikiran. Tapi, karena tubuh sudah terasa remuk sejak beberapa hari belakangan, saya rasa menunggu adalah jalan yang terbaik. Ya, terbaik daripada pulang cepat dengan gerutuan yang tak usai-usai dan badan masih linu-linu.

    Setelah melewati sekian jam bersama kebosanan, akhirnya giliran saya dipijat. Sentuhan tangan Ke Sumar terasa pas dan terampil di punggung saya. Meski kehidupannya mengolah ladang, tangannya tak terasa begitu keras. Itu pula yang mungkin disukai orang-orang selainku. Pijatannya tidak begitu sakit, bahkan cenderung membuat rileks, sehingga tidak jarang pasiennya larut dalam kantuk.

    Satu yang membedakan Ke Sumar dengan tukang pijat lainnya di kampung kami, yaitu nasihat-nasihatnya tentang kehidupan. Sampai-sampai ada yang berseloroh bahwa pijat Ke Sumar adalah pijat plus-plus. Plusnya, tentu saja nasihat-nasihat itu, bukan yang lain.

    Waktu saya dipijat ia bertanya, “Pekerjaanmu apa, Cong?”

    “Ngajar, Ke,” kataku.

    “Enak, ya? Tiap bulan bisa dapat gaji.”

    “Iya, Ke, tapi lebih sering tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang mahal sekarang ini.”

    “Ya, intinya tiap bulan ada yang bisa diharapkan kan?”

    “Ya, betul, Ke.”

    “Kalau menurut orang-orang dulu, untuk mendekatkan diri kepada Allah, pekerjaanmu kurang menantang, Cong.”

    “Kenapa bisa begitu, Ke?”

    “Ya, kamu tidak perlu mikir gaji. Sudah pasti ada di akhir bulan. Kamu tinggal bekerja saja dengan baik. Coba kalau kamu jadi sopir angkot atau tukang becak, untuk yang besok saja masih tidak jelas apakah dapat uang atau tidak.”

    Dua orang pasien datang. Ke Sumar menghentikan pijatannya, mempersilakan duduk, lalu masuk ke dapur. Beberapa menit ia sudah keluar dengan dua kopi di atas nampan untuk tamu yang barusan datang. Saat menyajikannya, ia berbasa-basi sebentar, lalu melanjutkan pijatan di perutku.

    “Kalau gaji tidak jelas, orang cenderung gelisah. Orang yang gelisah biasanya larinya ke Allah. Bangun malam meminta rezeki kepada Allah untuk besoknya. Terus seperti itu setiap hari.”

    Lenteng, 2 September 2018


    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar