23 Januari 2022

Istri Saya Suka Membeli Makanan Viral

Daftar Isi [Tutup]
    makanan viral

    Istri saya gampang terpukau dengan makanan viral. Ia kerap mengabari saya tiap ada kehebohan sebuah makanan di Facebook. Ia bilang teman-temannya banyak yang membicarakan. Katanya enak. Ia ingin mencobanya.

    Saya yang gampang ragu terhadap kehebohan di media sosial menanggapinya dengan datar. Sikap itu mungkin dipicu oleh seringnya media sosial membuat kehebohan yang tidak perlu, sehingga pikiran saya sudah kebal. Saya tidak gampang percaya sebelum benar-benar membuktikannya.

    Didasari rasa penasaran akan kehebohan itu, istri saya sering membeli makanan-makanan tersebut. Tiap kali ia membeli, saya selalu mencicipi. Hasilnya, saya sering kecewa. Rasanya tidak sebanding dengan kehebohan yang ditimbulkannya. Selesai makan, komentar saya selalu sama, "Masih banyak yang lebih enak dari ini."

    Bisnis makanan di era media sosial saat ini memang makin membeludak. Orang-orang dengan gampang bisa mempromosikannya di akun-akun mereka. Para pembeli pun bisa dengan mudah memberikan ulasan setelah mencobanya. Masalahnya, di Facebook umumnya yang memberikan komentar adalah teman-teman dekatnya si penjual. Tentu akan sulit ditemukan komentar yang negatif. Sebab, mereka pasti tidak mau disebut menjatuhkan bisnis orang. Komentar-komentar positif itu lalu membuat teman-temannya yang lain makin penasaran. Mereka akhirnya juga membeli. Lalu membuat komentar positif lagi. Begitulah kehebohan itu bekerja.

    Tapi, seberapa kuat gelembung ini akan bertahan? Tentu tidak akan lama. Bisnis yang dibangun dengan cara seperti itu perlahan-lahan akan meredup. Gaungnya akan kian mengecil karena tidak mungkin orang-orang terus-terusan membeli makanan yang tidak enak.

    Cara kerja bisnis seperti ini sama berisikonya dengan bisnis makanan yang mengandalkan figur. Kita sering melihat para artis dan selebgram memanfaatkan ketenarannya untuk mengembangkan bisnis kuliner mereka. Mereka jor-joran membangun cabang di mana-mana karena melihat antusiasme orang yang membeli. Mereka lupa melihat psikologi pembelinya. Bisa jadi, mereka hanya ingin di-repost stori instagramnya oleh si figur. Sebab, ada kebanggaan tertentu ketika ia mendapatkan perlakuan semacam itu.

    Sampai kapan bisnis makanan model begini akan bertahan? Umurnya ditentukan oleh satu kata: enak. Jika tidak enak, orang tentu tidak akan terus-menerus membelinya. Bisnis tersebut besar kemungkinan akan menyusut. Bisa jadi berakhir bangkrut. Tapi, kalau makanannya ternyata enak, maka ini akan menjadi perpaduan yang bagus. “Eksposur” ditambah “rasa enak” adalah kombinasi yang pas untuk membangun bisnis makanan.

    Saya sendiri termasuk orang yang konservatif dalam menilai bisnis makanan. Saya gampang terpukau dengan kata-kata "berdiri sejak tahun seribu delapan ratus sekian sekian". Bagi saya, lamanya berdiri sebuah bisnis makanan menjadi penanda bahwa ia bisa survive di segala medan. Ia sudah melewati berbagai zaman dengan segenap tantangannya. Dan ia bisa bertahan hingga saat ini. Itu artinya, rasa makanannya tetap bisa diterima di generasi yang berbeda. 

    Tentu saja ini pandangan orang awam soal bisnis makanan. Saya bukanlah praktisi bisnis. Opini ini hanya berangkat dari pikiran-pikiran saya terhadap kejadian sehari-hari. Karenanya, ini bisa dibantah.

    Lenteng, 23 Januari 2022


    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar