02 Januari 2022

Akhirnya Mencoba Internet untuk Pertama Kalinya

Daftar Isi [Tutup]


    *Untuk mendapatkan konteks yang lebih utuh dari cerita ini, sebaiknya baca dulu tulisan sebelumnya. Klik di sini.

    Tahun 2008, akhirnya di lingkungan pondok saya dibangun sebuah warnet yang sesungguhnya. Ya, warnet. Bukan kantor pesantren lagi seperti sebelumnya. Komputernya empat unit. Lima dengan server. Semuanya baru. Bau plastiknya masih terasa. Tapi, tentu saja masih pakai monitor tabung, yang kalau ditekan tombol powernya, seluruh lampu akan berkedip. Maklumlah, zaman itu monitor LCD masih jarang. Di warnet itu, hanya servernya saja yang menggunakan monitor LCD.

    Ketimbang warnet sebelumnya, warnet ini jauh lebih bagus, internetnya lebih cepat, dan tarifnya lebih murah (saya lupa persisnya berapa). Apalagi komputernya masih baru. Sudah pasti menawarkan pengalaman yang lebih asyik.

    Di situlah pertama kali saya bisa merasakan internet. Ya, akhirnya keinginan besar saya tercapai. Keinginan yang sudah lama terpendam. Saya datang ke sana persis berapa hari dari awal mula warnet itu dibuka. Saya harus antre karena ternyata yang penasaran dengan internet banyak sekali.

    Setelah menunggu agak lama, akhirnya saya bisa duduk di depan komputer. Dengan jari-jari yang masih kikuk, saya coba membuka browser. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuat email. Tapi, saya tidak tahu sama sekali bagaimana caranya. Waktu menonton temannya teman tempo hari, saya tidak belajar tentang bagaimana membuat sebuah email. Alhasil, saya meminta bantuan penjaga warnet untuk membuatkannya. Untungnya dia mau, walaupun disertai senyum penuh teka-teki. Mungkin dalam hatinya berkata, "Kampungan". Tapi itu alter ego saya sih. Kayaknya tidak mungkin dia berpikir sejahat itu. Kelihatannya dia baik.

    Penjaga warnet ini segera menghampiri, menggantikan tempat duduk saya. Ia lalu membuka peramban. Klik sana-sini. Isi form dengan data dari saya. Klik-klik sedikit. Beres. Ternyata mudah, bagi dia. Tidak, bagi saya.

    Setelah selesai membuat email, saya meminta bantuannya sekali lagi. Yaitu, mengirim email. Ya, saya ingin seperti penulis-penulis beken di luar sana, mengirim karya lewat email! Kebetulan saat itu saya suka menulis puisi. Dan saya sudah mempersiapkannya sebelum berangkat ke warnet tersebut.

    Dikirimlah puisi tersebut entah ke media apa. Saya lupa. Intinya media besar. Mungkin koran Kompas. Jika Anda berpikir saya tidak tahu diri dengan mengirim puisi ke media besar tersebut, jangan diralat, pikiran Anda sudah benar. Tahun-tahun itu saya memang sepede itu. Sebetulnya bukan pede, tapi lebih tepatnya tidak tahu bahwa puisi saya akan bersaing dengan puisi penulis-penulis keren pada saat itu. Jika ada seribu karya yang masuk pada waktu itu, tentu saja puisi sayalah yang pertama kali masuk recycle bin. Dan benar, puisi itu tidak pernah muncul sampai kapan pun.

    Setelah selesai mengirim puisi, akhirnya saya memegang kendali lagi. Saya mencoba mengamalkan ilmu saya tentang blog yang sudah saya dapat sebelumnya. Saya coba klik ini dan itu. Mencoba mengingat-ingat alurnya yang sudah saya simpan dalam ingatan. Setelah agak lama mencoba, sepertinya ada ingatan saya yang salah. Saya tidak kunjung bisa membuat blog. Kebingungan setelah melewati beberapa tahap. Sulit membedakan mana dasbor dan mana tampilan antarmuka.

    Setelah berkutat lama dengan kebuntuan, akhirnya kepala saya memunculkan ide: saya cari di Google saja tutorial membuat blog. Ternyata sudah banyak artikelnya. Saya kopi tulisan-tulisan tersebut dan saya simpan di flashdisk. Nantinya akan saya print untuk saya pelajari. Saya tidak mungkin membacanya di warnet. Selain karena miskin, membaca tulisan cetak jauh lebih gampang melekat di ingatan. Kalau lupa, bisa dibaca ulang. Apalagi, nanti bisa dibawa saat akan ke warnet lagi sebagai contekan kalau lupa.

    Satu jam selesai. Saya puas. Tapi lebih banyak rasa penasarannya. Rasa penasaran inilah yang membuat saya makin ingin terus mengunjungi warnet di hari-hari berikutnya.

    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar