23 Desember 2021

Halah, Kayak Gitu Kok Diberitain

Daftar Isi [Tutup]


    Mungkin kita pernah membaca sebuah komentar semacam "Halah, kayak gitu diberitain. Nggak ada berita yang lebih bermutu apa?" Komentar tersebut biasanya muncul atas respon terhadap sebuah media yang memberitakan hal-hal remeh, bombastis, bahkan desas-desus.

    Komentar semacam itu tidaklah salah karena salah satu tugas media adalah mengedukasi. Berita-berita yang sifatnya tidak penting memang sebaiknya tidak mendapatkan porsi pemberitaan yang besar, atau bahkan harusnya tidak diberitakan. Tapi, melihat media saat ini tidak boleh sesempit itu. Kita harus memperluas sudut pandang agar bisa melihat persoalan secara utuh.

    Dulu, di media cetak sekelas Kompas dan Koran Tempo, akan sulit ditemukan berita-berita receh atau gosip-gosip artis. Kalaupun ada, porsinya sangat kecil. Tapi, coba kita cek Kompas.com dan Tempo.co sekarang, gosip-gosip artis sudah biasa muncul di sana. Peralihan dari cetak ke daring nyatanya membawa perubahan pada cara mereka menurunkan sebuah berita.

    Ketika sebuah media cetak beralih ke daring, tantangan terbesar mereka adalah bagaimana membuat situsnya bisa survive. Masalahnya, cara orang mengonsumsi berita di media cetak berbeda dengan media daring. Kalau cetak, orang harus berlangganan, sementara untuk daring umumnya gratis (sebagian kecil berbayar, tapi kurang laku). Nah, karena perbedaan itu pula, sumber pemasukan media juga berbeda. Media cetak mendapatkan duit dari pembaca dan pengiklan, sementara media daring murni dari pengiklan. Karena duitnya dari pengiklan, satu-satunya cara untuk mendapatkan duit yang banyak adalah mendatangkan sebanyak mungkin pembaca. Semakin banyak pembaca, semakin banyak pengiklan yang datang. Semakin banyak pengiklan, makin subur pemasukan.

    Perlombaan antar masing-masing media untuk mendapatkan banyak pembaca ini membawa perubahan besar terhadap kualitas pemberitaan. Misalnya, masing-masing media berebut menjadi yang tercepat mengabarkan sebuah peristiwa, karena yang paling cepat biasanya yang paling banyak dibaca orang. Karena tuntutan inilah, berita yang kadang kurang jelas malah lolos muat, sesuatu yang jarang terjadi di media cetak karena harus melalui kroscek yang berulang-ulang.

    Selain itu, untuk menggaet pembaca, media juga gemar membuat berita-berita yang judulnya memantik rasa penasaran, bahkan kadang merupakan kesimpulan semena-mena atas isi berita. Sehingga, antara isi dengan judul terkesan tidak nyambung. Mereka melakukan itu karena ingin orang mengklik berita tersebut untuk menuntaskan rasa penasarannya. Itulah yang dinamakan clickbait.

    Selain judul clickbait, berita receh, gosip, dan desas-desus juga menjadi hal biasa dalam dunia pemberitaan media daring saat ini. Gosip artis selingkuh, cekcok, cerai, unfollow artis lainnya, saling sindir di instagram, dan sebagainya, sudah menjadi langganan nyaris setiap hari.

    Pertanyaannya sekarang, mengapa media melakukan itu semua? Jawabannya simpel: karena banyak yang membacanya. Kalau tidak ada yang membaca, tidak mungkin media capek-capek menuliskannya. Buat apa mereka melakukan sesuatu yang tidak penting untuk hasil yang nihil?

    Bagaimana agar media-media tersebut jera? Ya, simpel: berhentilah membaca berita-berita semacam itu. Selagi kita suka membuka atau bahkan membacanya, sampai kiamat pun mereka tidak akan pernah berhenti melakukan itu.

    Lenteng, 22 Desember 2021

    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar