29 Desember 2021

Awal Mula Saya Mengenal Dunia Internet

Daftar Isi [Tutup]



    Sekitar tahun 2007 akhir, saya mulai mengenal internet. Dan saya jatuh cinta pada teknologi ini. Saya terkagum-kagum dengan kecanggihannya, bahkan sejak sebelum menyentuh barangnya sama sekali. Lho, kok bisa? Bisa, karena cerita teman-teman saya yang sudah pernah mencobanya. Mereka mengatakan bahwa internet dapat menghubungkan kita dengan dunia luar. Kita bisa berselancar di mesin pencari, mengakses beragam tulisan, gambar, bahkan video. Kita juga bisa mengirim email, sebuah aktivitas yang saat itu hanya saya bayangkan dari hasil membaca-baca majalah. Biasanya, di majalah selalu ditulis tentang tata cara pengiriman naskah, salah satunya melalui email ini. Selain itu, di internet kita juga bisa membuat blog, sebuah platform yang bisa menampilkan karya secara gratis. Sungguh mewah sekali.

    Tentu saja cerita-cerita itu berasal dari teman-teman saya yang punya banyak uang. Maklum, warnetnya berjarak sekitar 8 kilometer dari pondok kami. Untuk bisa ke sana harus naik motor atau mobil. Jadi, selain mengeluarkan biaya internet, masih harus mengeluarkan biaya perjalanan. Dan saya jelas tidak mampu.

    Untungnya, sekitar tahun 2007 akhir, di lingkungan pondok saya dibangun sebuah warnet. Sebetulnya tidaklah pas disebut warnet karena komputer yang digunakan adalah fasilitas kantor pesantren. Dan unitnya cuma dua biji.

    Di sanalah pertama kali saya bisa melihat wajah asli internet seperti apa. Waktu itu, saya diajak oleh seorang teman untuk menonton temannya yang mau mengakses internet. Ya, kami berdua hanya jadi penonton. Jelas, karena kami belum tahu caranya dan yang lebih penting: kami miskin! Waktu itu, tarifnya Rp10.000 per jam. Itu angka yang harus kami pikir 23000 kali untuk dikeluarkan. Dengan duit sebesar itu, kami bisa makan tiga kali. Apalagi fasilitas internetnya lambat minta ampun dan sering putus nyambung. Maklum, jaringannya masih menggunakan kabel tembaga, bukan fiber optik seperti sekarang ini. Alhasil, waktu satu jam itu terasa cepat karena masih disela oleh internet putus dan lemot. Mengeluarkan duit Rp10.000 terasa makin sia-sia.

    Temannya teman saya ini memang sudah pengalaman. Dia tidak hanya bisa berselancar, tapi juga membuat blog. Ya, dia membuat blog, sesuatu yang saat itu sangat populer, tapi saya tidak tahu makhluknya seperti apa. Yang saya pahami waktu itu hanya satu: kita bisa membuat web pribadi. Itu sesuatu yang sangat istimewa dalam bayangan saya.

    Karenanya, saat temannya teman saya ini mengakses blog, saya perhatikan betul-betul. Saya berusaha mengikuti alurnya dari awal sampai akhir karena suatu saat saya ingin membuatnya juga. Saya harus tahu. Dan benar, setelah satu jam di depan komputer, saya bisa mencatat beberapa hal di kepala saya tentang blog. Walaupun tidak bisa langsung membuatnya, tapi minimal saya bisa mengerti sedikit alurnya.

    Keluar dari warnet itu, saya merasa puas karena bisa tahu rupa asli sebuah internet. Lebih-lebih saya bisa mengetahui sedikit cara untuk mengaksesnya. Saya bertekad kelak akan bisa mencobanya secara langsung, walaupun bekalnya cuma dari melihat untuk pertama kalinya.

    Baca Juga

    Tinggalkan Komentar