YouTube menjadi platform video terbesar saat ini. Jutaan orang berkunjung setiap harinya untuk menonton berbagai tema video. Dari sekadar tema hiburan, sampai informasi-informasi penting, semisal sains dan teknologi. Saat ini ia sudah didownload lebih dari semiliar unduhan.

Aplikasi kepunyaan Google tersebut mengubah cara orang menikmati video. Bahkan ada yang mengatakan YouTube akan menggantikan televisi. Tapi ternyata sampai saat ini belum. Walaupun mengurangi banyak segmen dari televisi, YouTube belum mampu mematikan televisi. Sampai saat ini, televisi terus eksis walaupun sebagian sudah terangah-engah mengayun langkah. Bahkan ada yang memberhentikan karyawannya karena perusahaannya terus merugi.

Sebagai aplikasi yang terus ingin eksis, tentu saja YouTube punya terobosan-terobosan yang membuat penontonnya menjadi betah berlama-lama di sana. Sebagaimana lazimnya aplikasi-aplikasi masa kini, YouTube juga punya algoritma tertentu yang ditujukan untuk memudahkan penontonnya dalam menikmati video-videonya. Salah satu turunan dari algoritma itu adalah rekomendasi video.

Setiap kita menonton video tertentu, biasanya kita akan disodorkan video-video lain yang temanya sama. Jika kita menonton pertandingan catur Magnus Carlsen, misalnya, pertandingan-pertandingan lainnya akan disodorkan YouTube untuk kita tonton juga. Jadi YouTube menawarkan videonya agar diklik oleh kita, sehingga kita bisa menontonnya dalam waktu yang lama. YouTube ingin kita selalu berada di sana karena itulah yang ia jual ke pengiklanannya.   Semakin banyak orang berkerumun dalam jangka waktu yang lama, semakin mahal harga iklan yang tayang di sana.

Tapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Jika dipikir panjang, rekomendasi seperti itu sedikit banyak akan mempengaruhi opini seseorang.

Misalnya, kita menonton satu video tentang teori bumi datar. Maka, YouTube akan dengan senang hati merekomendasikan video-video serupa dari banyak sekali channel. Video-video itu akan muncul di beranda YouTube kita setiap kita membuka aplikasi tersebut.

Ini mungkin perkara kecil bagi orang yang punya pikiran terbuka. Tetapi bagi orang yang punya pikiran sempit, justru rekomendasi tersebut semakin membuat mereka yakin bahwa bumi itu memang datar. Ini seperti lapisan-lapisan keyakinan yang semakin memperkokoh cara pandang mereka.

Anda bisa mengubah contoh bumi datar di atas dengan hal-hal lainnya. Misalnya soal politik Indonesia yang penuh sekali dengan intrik dan kampanye hitam. Atau konspirasi-konspirasi tentang banyak hal yang videonya sangat mudah ditemui di YouTube.

Rekomendasi video YouTube mungkin berhasil dalam menciptakan ekosistem aplikasi yang nyaman dan mengundang orang untuk betah di sana. Tapi, jika tidak pintar-pintar menggunakannya, justru hal itu akan membangun kerangka berpikir satu arah, sebuah cara pikir yang cenderung jatuh ke taklid dan fanatik.

*Ditulis di ponsel. Maaf jika banyak kata atau kalimat yang kurang tepat