sumber gambar: ma1putri.sch.id

DISCLAIMER: Ini adalah wawancara saya dengan Muna Masyari awal tahun 2017 silam yang dimuat di Yuuuk.com. Blog tersebut mati suri sebelum genap berusia setahun. Karena wawancara ini saya anggap penting, maka saya berusaha mengarsipnya di blog pribadi ini. Mohon maaf bila pertanyaan-pertanyaannya kurang mendalam. 
___________________

Penulis prosa dari Madura yang bisa diperhitungkan di tingkat nasional tidaklah banyak. Bila dibandingkan dengan penulis puisi, penulis prosa jauh lebih sedikit. Muna Masyari adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Kak Muna lahir di Kowel, Pamekasan, pada tanggal 26 Desember 1985. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di sejumlah media nasional: Kompas, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Republika, Pikiran Rakyat, Femina, Tabloid Nova, dan lain-lain. Umumnya cerpen-cepen tersebut bertema lokal Madura.

Redaksi Yuuuk.com berkesempatan mewawancarainya melalui email pada tanggal 7 dan 11 Januari 2017. Berikut ini adalah petikannya.

Bisa diceritakan perkenalan Kakak dengan dunia buku?

Sejak SD saya sudah mengenal buku-buku perpustakaan. Sejak itu pula saya jadi suka membaca. Tapi setelah keluar dari SD (tepatnya keluar menjelang ujian akhir kelas 6) saya sangat kekurangan buku bacaan. Maklum, di kampung. Untuk membeli, tak punya uang, hehehe. Paling sering, saya pinjam majalah ke teman yang mondok di Bata-bata (Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Red.). Majalah Annida! Isi satu majalah nyaris saya hapal karena diulang-ulang, hingga datang edisi berikutnya. Teman saya kan langganan, dan selesai dibaca di pondok, disuruh bawa pulang ke ibunya. Jadi saya bisa pinjam di rumahnya. Tidak hanya majalah. Ada buku-buku penulis FLP juga. Tapi saya lupa buku apa saja.

Buku genre apa saja yang Kakak baca? Genre apa yang paling disenangi?

Saya tidak terlalu pilih-pilih bahan bacaan. Tapi lebih suka fiksi fantasi.

Bila dirata-rata, dalam sebulan Kakak bisa membaca berapa buah buku?

Tergantung ketebalan halaman dan waktu. Bisa lima sampai enam buku. Waktu membaca 100 Tahun Kesunyian (Gabriel Garcia Marquez), butuh waktu yang cukup lama, karena cukup tebal dan nama-nama tokohnya hampir sama hingga harus diulang-ulang untuk mengingantnya lagi, hehe. Itu buku paling asyik yang saya baca.

Siapa pengarang favorit Kakak?

Sejauh ini saya tidak memiliki pengarang favorit. Saya membaca karya seseorang tanpa banyak memikirkan siapa pengarangnya. Saya menyukai Ronggeng Dukuh Paruk, tapi saya tidak bisa mengatakan saya menfavoritkan Pak Tohari.

Bagaimana mulanya Kak Muna belajar menulis hingga tulisan-tulisan Kakak bisa terbit di sejumlah media nasional?

Saya belajar menulis dari membaca, tanpa mengenal teknik menulis sebelumnya. Hanya dari membaca cerita-cerita fiksi yang membuat saya terbawa untuk menulis cerita fiksi pula. Dulu, saya suka menulis kumpulan cerita pendek (semacam flash fiction) pada sebuah buku tulis. Setelah penuh, teman-teman meminjamnya, bergantian, hingga buku itu tampak kucel dan saya sangat menyayangkan, tapi senang juga!

Buku itu masih ada sampai sekarang?

Sebagian masih saya simpan.

Selain belajar sendiri, ada nggak orang yang membimbing Kakak dalam menulis?

Kepenulisan saya mengalami kemajuan sejak rajin membaca cerpen-cerpen koran. Kalau tidak salah, saya rajin membaca cerpen-cerpen koran sejak tahun 2010-2011, di Lakonhidup (blog lakonhidup.wordpress.com, Red.). Sejak itu saya mulai memberanikan diri merambah dunia koran. Sekitar tahun 2012-2013, saya kenal Mas Mahwi Air Tawar. Beliau membimbing saya dan banyak memberikan arahan yang sangat membantu.

Bagaimana kisah perjuangan Kakak dalam menembus media nasional?

Awalnya, saya kirim ke media-media lokal dulu. Tidak langsung ke media nasional. Seperti Surabaya Post. Cerpen koran pertama saya dimuat di sana. Waktu itu saya ngotot harus tembus di sana karena hampir setiap dua pekan sekali cerpen Mashdar Zainal tayang di sana. Kayak nggak ada pengirim lain, pikir saya.

Dulu saya memakai sistem fokus. Kalau sudah mengincar satu media, saya kirimi terus sampai tembus, tidak memikirkan media lain. Misalnya mengincar Surabaya Post, setiap menghasilkan cerpen baru hanya saya tawarkan ke sana. Setelah tembus, baru beralih ke media lain. Begitu seterusnya, hingga media nasional pun tak luput jadi incaran. Tapi, sekarang sudah tidak memakai sistem fokus lagi.

Mengapa Kakak memilih prosa, bukan puisi atau yang lainnya?

Merasa lebih nyaman saja. Barangkali karena bacaan saya juga lebih banyak prosa. Di situ pengaruhnya.

Pernah menulis puisi?

Pernah. Pernah juga menjadi nominator dalam ajang Forum Tinta Dakwah, Forum Lingkar Pena, Riau.

Punya keinginan untuk juga menjadi penyair?

Untuk jadi penyair? Entahlah. Belum terpikir ke sana.

Tema-tema yang ada dalam cerpen Kakak umumnya tentang Madura. Apa alasan Kakak memilih tema-tema lokal tersebut?

Saya ingin lebih mengenali Madura.

Sudah ada beberapa penulis prosa yang mengangkat tema tentang Madura, salah satunya Mahwi Air Tawar . Kira-kira apa hal baru yang ingin Kakak tawarkan sebagai pembeda dari yang sudah disuguhkan oleh mereka?

Saya tidak tahu apa yang saya suguhkan tentang Madura adalah sesuatu yang baru. Akan tetapi, saya hanya melihat persoalan dari sudut pandang saya sendiri. Menurut saya, di situlah pembeda antara penulis satu dengan lainnya, termasuk saya. Tema kadang sama, tapi sudut pandang pasti berbeda kan?

Sudah punya buku? Atau, ada keinginan untuk menerbitkan buku?

Belum. Tapi tentu saja punya keinginan untuk menerbitkan buku, terutama novel. Mohon doanya saja semoga tahun ini mampu merampungkan sebuah buku untuk Madura.

Apa harapan Kakak terhadap dunia sastra di Madura?

Saya berharap penulis-penulis muda Madura semakin peduli untuk menggali kearifan budaya-budaya Madura. Jangan biarkan terkubur kering seperti sumur mati. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? (*)