Hingga bulan Ramdhan menginjak tanggal 12, aku belum menyentuh sama sekali draf novelku. Tak ada secuil pun yang berhasil kutuliskan.

Jauh sebelum datang bulan Ramadhan, kupikir bulan ini adalah waktu yang tepat untuk menggarap apa yang sudah kuidam-idamkan. Sebab, pada hari-hari biasa aku disibukkan dengan urusan mengajar. Namun, kenyataannya tidak demikian. Urusan menyelesaikan novel ternyata bukan hanya soal waktu lowong. Ada banyak hal yang harus diperhatikan.

Berikut ini adalah sejumlah hal yang kucatat dari pengalaman gagal menulis novel ini:
Pertama, kemauan yang kuat. Kosakata itu memang klise, namun ia tetap penting karena memang demikian adanya. Apa pun jika tak ada kemauan kuat, sulit untuk melakukannya. Termasuk ketika kita mau berak.

Kedua, harus ada skala prioritas. Terkadang kita memiliki banyak pekerjaan yang tidak saling berkaitan. Misalnya, mengangon kambing, menyapu halaman, merawat burung, baik burung sendiri maupun orang lain, melatih kera, beternak cacing, dan sebagainya. Dihadapkan dengan pilihan yang sebanyak itu kita harus membuat prioritas. Jika target kita adalah melatih kera secepat mungkin, kita harus memprioritaskannya. Demikian juga dengan menulis novel. Jika novel bukan menjadi prioritas, sebaiknya kita tidak usah menulis novel. Meramal togel mungkin pekerjaan yang tidak terlalu buruk.

Ketiga, menjaulah dari ponsel pintar. Sudah banyak orang membahas masalah ini, termasuk AS Laksana. Dia merasa bahwa ponsel pintar adalah benda yang ribut. Sebentar-sebentar muncul pemberitahuan dari aplikasi A, lalu B, lalu C, lalu D, dan seterusnya sampai kiamat tiba. Ketika muncul notifikasi itu, orang merasa selalu penasaran jika tidak mengeceknya. Ketika sudah mengecek, satu dua jam hilang percuma karena di hadapan media internet, manusia menjadi lupa waktu. Jika bisa disebut, ponsel pintar sekarang adalah alat lain yang lebih masif untuk menghipnotis orang.

Keempat, jangan banyak bicara. Orang yang banyak bicara biasanya banyak juga bohongnya. Jika kita ingin menulis novel, sebaiknya kita tidak membicarakannya kepada teman kita. Boleh membicarakannya ketika novel itu mulai digarap, misalnya kita ingin meminta masukan dari mereka. Jika hanya sebatas keinginan belaka, sebaiknya hindari menjual diri dengan mimpi-mimpi.

Kelima, carilah tempat yang nyaman. Ini penting karena kalau kita berada di tempat yang tidak nyaman, maka sulit untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Syukur-syukur bisa menulis. Justru kebanyakan malah mandek, apalagi jika yang bikin tidak nyaman itu adalah teman atau famili kita sendiri. Bikin dongkol jadinya.

Keenam, mulai menulis. Itu yang paling penting dari semua yang saya sebutkan dari awal.

Itulah beberapa hal dari pengalaman saya mengenai hal-hal yang harus diperhatikan sebelum kita menulis novel.

Lenteng, 7 Juni 2017