Pendidikan sejatinya bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia. Di lembaga pendidikan, potensi itu diasah sedemikian rupa agar kelak ia berfungsi secara maksimal dan bisa dimanfaatkan untuk kemajuan kehidupan. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendidik anak agar menjadi manusia yang sempurna hidupnya, yaitu kehidupan dan penghidupan manusia yang selaras dengan alamnya (kodratnya) dan masyarakatnya (Darmadi, 2019:14).

Untuk sampai kepada kesempurnaan itu, manusia harus mengenali diri dan lingkungannya. Mereka harus tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan bagaimana lingkungan kehidupannya. Kesadaran fundamental ini akan menjadi dasar agar pendidikan yang ditempuh bisa membumi, tidak mengawang-awang dan kehilangan pijakan.

Dari poin di atas, sebetulnya pendidikan di berbagai tempat bisa sangat beragam. Keberagaman tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, misalnya, sosiologis, kultural, dan geografis.

Di masing-masing daerah, terdapat perbedaan-perbedaan lanskap kehidupan yang sangat signifikan, sehingga pendidikan itu seharusnya bersifat eksklusif. Maksudnya adalah pengenalan pendidikan di masing-masing daerah mengandaikan adanya perbedaan-perbedaan. Pendidikan di Madura seharusnya bisa berbeda dengan pendidikan yang ada di Jawa karena letak gorgrafis, kultur, maupun potret sosialnya berbeda.

Karena itu, lembaga pendidikan selayaknya mengenalkan para peserta didik terhadap lingkungannya yang spesifik. Secara geografis, misalnya, siswa di Madura harusnya dikenalkan lebih dulu tentang peta Madura ketimbang mempelajari peta Amerika. Atau, sebelum belajar tentang potensi Palangkaraya, mereka terlebih dahulu harus mengenali potensi yang dimiliki oleh daerah sendiri, yaitu Madura. Sungguh disayangkan jika mereka tahu banyak tentang dunia luar, tapi minim pengetahuan tentang daerahnya sendiri. Padahal, daerah tersebut yang kelak akan mereka kelola.
Sinergi Media Massa dan Lembaga Pendidikan di Madura

Pers menurut UU No.40/1999 memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. UU tersebut menunjukkan bahwa pers juga menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Ia punya tanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa.

Nah, bagaimana mengimplementasikan amanat UU ini dalam kehidupan pendidikan di Madura? Tentu saja harus ada peran aktif dari dua elemen penting, yaitu media massa dan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan tidak boleh memunggungi media massa. Mereka harus sadar bahwa peran media massa sangat penting untuk memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang lingkungan kehidupan mereka. Peserta didik harus tahu tentang potensi-potensi maupun masalah-masalah yang ada di daerah mereka.

Selama ini, pendidikan tidak banyak menyentuh kehidupan riil perserta didik. Mereka seperti belajar di awang-awang. Jika mereka belajar geografi, jarang sekali guru memberikan pelajaran tentang kondisi geografis Madura. Mereka lebih banyak belajar tentang dunia luar yang jauh dari kehidupan mereka.

Peserta didik juga jarang yang tahu tentang potensi yang dimiliki oleh Madura. Jika ditanya tentang apa kekayaan yang dimiliki oleh Madura, mereka biasanya sulit menjawab. Padahal, di Madura terdapat beberapa potensi, baik itu ekonomi, budaya, maupun sosial-keagamaan. Mereka juga jarang tahu masalah-masalah kehidupan yang dihadapi oleh lingkungannya. Jikapun mereka tahu, umumnya tidak banyak yang peduli.

Memang, pengetahuan soal itu sulit ditemukan di meteri pelajaran. Tetapi lembaga pendidikan, khususnya guru, harus berinisiatif untuk mengisi kekosongan tersebut. Media massa adalah salah satu alternatif yang bisa mengenalkan siswa terhadap lingkungan mereka. Di media massa, mereka bisa mendapatkan berbagai informasi yang spesifik, misalnya tentang kondisi alam, potensi wisata, konflik, dan semacamnya yang terdapat di Pulau Garam ini. Dengan menggali informasi tersebut, peserta didik bisa terbantu tanpa harus lelah melakukan observasi sendiri. Apalagi, kegiatan observasi ini menjadi barang mahal di lembaga pendidikan.

Tetapi, tentu saja peran lembaga pendidikan ini juga harus diimbangi oleh peran media massa. Ketika media massa menjadi salah satu platform pengetahuan siswa, maka pengelola media juga harus siap menyajikan informasi yang mendalam, kredibel, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika liputan-liputannya hanya berisi informasi ecek-ecek, desas-desus, dan gosip, maka fungsi pers sebagai sarana pendidikan akan kehilangan relevansinya.

Tulisan ini memenangkan juara 3 lomba menulis artikel guru se-Madura yang diadakan oleh Kabar Madura saat ulang tahunnya yang ke-7, tanggal 5 Juli 2019.